Kehilangan.

 Apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah kehilangan?.

Kehilangan apapun itu. Barang, momentum, ingatan, tawa, dan tentunya orang yang kita sayang. Dalam cerita ini, aku kehilangan Mbah Kakung-ku. Aku memanggilnya Pak Puh, dalam bahasa Jawa, Pak Puh adalah singkatan dari Bapak Sepuh.


 Ya Allah...

Tepatnya 6 Februari 2022, jam 12 malam. Mbah Kakung menghembuskan nafas terakhir. Aku baru diberi kabar oleh Bapak jam 00.53, persis sebelum aku bersiap untuk tidur. Kabar ini entah mengapa terasa sangat menyakitkan sekali. Ada lubang kelam yang tiba-tiba muncul dalam hati. Dalam hidup, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan salah satu keluarga yang begitu dekat. Bulan sebelumnya, aku ditinggalkan nenek juga. Emak dari Mamak yang berada di Potianak. Nenek memang tidak dekat denganku sejak aku pindah ke pulau Jawa umur 7 tahun. Tapi Pak Puh...berita tentangnya membuatku rapuh dan menangis sejadinya. 

Aku ingat sekali memori itu, ketika Aku, Mamak dan Bapak sampai di kampung kami untuk pertama kalinya. Pak Puh menyambut kami dengan antusias. Membantu memanggul kotak televisi yang Bapak bawa dari Pontianak. Kala itu, beliau masih nampak sangat kuat dan tangguh tentu saja. Apa adanya, tidak penuh drama, bahkan saat itu baliau hanya mengenakan celana hitam kebangsaan (celana ini adalah celana favorit Pak Puh) tanpa mengenakan atasan alias topless. Pak Puh adalah orang yang sangat ramah, penuh senyum, penuh cerita dan senang akan kedatangan anak, menantu, dan juga cucu pertamanya.

Semakin beranjak dewasa dan sudah lama di Jawa, aku benar-benar seperti cucu yang sangat diperhatikan. Walau tidak pernah menunjukkannya langsung, aku tahu, Pak Puh sangat menyayangiku. Ada kalanya, beliau memberiku uang jajan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan Budhe. Walaupun sudah Mbah-Mbah, Pak Puh itu dulu punya banyak uang. Kerjaannya banyak. Mulai dari merumput untuk kambing-kambing kesayangannya yang berisik setiap hari, beliau bahkan mau berenang menyebrang ke sungai luas demi mendapatkan rumput dengan kualitas lebih baik untuk hewan mengembik itu. Mencangkul disawah untuk panen-panen selanjutnya, membuat meja atau kursi dari bambu dan hal-hal lain yang bisa ia kerjakan tanpa bantuan. Dulu...itu dulu ketika tubuhnya masih sangat penuh kekuatan selayaknya laki-laki yang penuh tanggung jawab.


Waktu berjalan begitu cepat..

Aku sudah dewasa. Aku mulai sekolah keluar kota, sibuk kuliah hingga jarang pulang, aku bahkan sempat ke Potianak setahun, lalu kembali ke Jawa dan setelahnya mendapatkan perkerjaan di kota tempatku kuliah, Semarang. Aku semakin jarang bersua dengan Pak Puh. Pak Puh yang dulunya sering memarahiku jika aku pulang terlalu sore karena lupa waktu akibat bermain. Aku tidak pernah menyadari Pak Puh juga semakin menua. Beliau sudah tidak setangguh dulu..

Pak Puh benar-benar sudah menjadi orang tua dengan rambut putih merata, kulit yang keriput, mata yang mulai kabur, pendengaran yang berkurang, dan hanya bisa terduduk lemah tanpa melakukan apapun. Pak Puh sudah tidak bisa mengerjakan hal-hal yang dulu sering beliau lakukan. Pernah ia berkata, "Aku sudah tua, sudah tidak bisa bekerja dan membantu kalian..". Saat itu aku tersenyum, dan hanya membalas "Pak Puh tenang saja, saat ini adalah saatnya cucu Pak Puh yang bekerja, menggantikan Pak Puh". Tak pernah sekalipun, aku berpikir keberatan akan hal itu, karena aku pikir memang sudah seharusnya begitu. Pak Puh juga pernah bilang sebelum pernikahanku digelar, dan minta agar beliau bisa hadir, "Nanti aku hanya bisa merepotkan saja". Aku tak pernah tahu, ada kesedihan dalam kalimat yang Pak Puh sampaikan, bahwa dirinya sudah menjadi orang tua yang tak berguna untuk keluarganya. Jika kuingat kalimat itu sekarang, pedih sekali untuk tidak menangis. 

Kini, Pak Puh sudah dipanggil kembali oleh-Nya.

Subuh jam 4 pagi aku sampai dirumahku, dan melihat Pak Puh sudah tertutup kain jarik. Aku tidak berani menutup kain itu, untuk sekedar melihat Pak Puh yang terakhir kali. Yang kulakukan adalah berdoa dan membaca yassin untuk kepergiannya. Semoga, amal ibadah beliau diterima disisi-Nya dan Pak Puh diberikan tempat terbaik disana. Kesedihan terdalam bukan saat ku lihat wajah Pak Puh yang bersinar saat kain itu disingkap oleh orang untuk ikut mendoakan, kesedihan terdalamku adalah belum bisa menjadi cucu yang baik semasa Pak Puh masih hidup dan sehat. Jika bisa kuputar kembali waktu, ingin rasanya aku menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, menemani masa tuanya, dan mendengarkan dengan khidmat cerita-cerita yang ingin beliau sampaikan.


Pak Puh..maafkan aku karena belum bisa menjadi cucu terbaik yang bisa Pak Puh miliki. Kami cucumu akan selalu mendoakan dan merindukan senyum ramahmu. Hal baik yang pernah engkau ajarkan, akan kami tanamkan dalam diri kami, agar kau tetap hidup dalam sanubari kami. Selamat jalan Pak Puh, terima kasih untuk telah menjadi Kakek yang mau menjaga, merawat, dan menerima kami tanpa keluhan. Kami menyangimu.


Komentar

Postingan Populer